The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC <p>The<strong> International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization</strong><em> published by Islam Nusantara Center Foundation ( ISSN <a title="cetak" href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1521418725&amp;1&amp;&amp;">2621-4938</a> , E-ISSN <a title="online" href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1519119152&amp;1&amp;&amp;">2621-4946</a>) This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in</em>&nbsp;Pegon, Arabic<em> and English and with the fair procedure of blind peer-review.</em></p> <p><em>The International Journal of Pegon: Islam Nusantara Civilization has been accredited by Indonesian Institute of Sciences&nbsp;SK no. 0005.26214946/JI.3.1./SK.ISSN/2018.06 - 8 Juni 2018 (mulai edisi Vol. 1, No. 1, Juni 2018)</em></p> INC- Islam Nusantara Center en-US The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization 2621-4938 Moderasi Beragama dalam Lingkungan Pendidikan Industri: Upaya Mencegah Radikalisme dan Menumbuhkan Toleransi https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/166 <p>Abstract</p> <p>Religious moderation is an approach to faith that emphasizes balance, tolerance, and anti-extremism in practicing religious teachings. In industrial education environments such as polytechnics—which produce human resources for strategic national sectors—religious moderation values are crucial to preventing radicalism and fostering social harmony. This article aims to examine the role of Islamic religious education in instilling moderate attitudes among students in industrial vocational education. Using a qualitative approach through literature studies and contextual observation, the author finds that integrating religious moderation values into the curriculum and campus culture can foster tolerant and inclusive character, as well as raise students’ awareness of the dangers of radical ideologies. The verse QS. Al-Baqarah: 143, which refers to Muslims as ummatan wasathan, serves as a significant theological foundation affirming that balance and justice are central to Islamic teachings. This study recommends strengthening the role of religious lecturers as agents of moderation and promoting collaboration among campus stakeholders in building a peaceful and productive religious atmosphere within industrial polytechnics.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Moderasi beragama merupakan pendekatan keagamaan yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan anti-ekstremisme dalam menjalankan ajaran agama. Di lingkungan pendidikan industri seperti Politeknik, yang mencetak sumber daya manusia untuk sektor strategis nasional, nilai-nilai moderasi beragama menjadi sangat penting untuk mencegah radikalisme dan menciptakan harmoni sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan agama Islam dalam menanamkan sikap moderat di kalangan mahasiswa pendidikan vokasi industri. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi pustaka dan observasi kontekstual, penulis menemukan bahwa integrasi nilai moderasi beragama dalam kurikulum dan budaya kampus dapat menumbuhkan karakter toleran, inklusif, serta meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap bahaya paham radikal. Dalil QS. Al-Baqarah: 143 yang menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan menjadi landasan teologis penting dalam menegaskan bahwa keseimbangan dan keadilan adalah inti dari ajaran Islam. Hasil kajian ini merekomendasikan penguatan peran dosen agama sebagai agen moderasi serta kolaborasi antar pemangku kepentingan kampus dalam membangun atmosfer keberagamaan yang damai dan produktif di lingkungan politeknik industri.</p> <p>&nbsp;</p> Afip Miftahul Basar ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 1 18 10.51925/inc.v16i01.166 Strategi Penggunaan Pegon Sebagfai Sarana Pembelajaran Kitab Kuning SMPIT Al-Anis https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/167 <p>Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi penggunaan aksara Pegon sebagai sarana pembelajaran kitab kuning di SMPIT Al-Anis Kartasura. Walaupun metode ini berakar pada tradisi pesantren klasik, penerapannya di sekolah formal menunjukkan relevansi yang kuat dengan kebutuhan pendidikan Islam kontemporer. Aksara Pegon digunakan sebagai media penerjemahan teks Arab ke dalam bahasa lokal, sehingga memudahkan siswa dalam memahami dan memaknai isi kitab kuning. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui metode sorogan dan bandongan, yang dipadukan dengan kegiatan ngesahi, penyimpulan, tanya jawab, serta evaluasi berkala. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif lapangan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta dilengkapi evaluasi bulanan untuk mengukur efektivitas strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aksara Pegon tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks Arab klasik, tetapi juga memperkaya kosakata, memperjelas struktur kalimat, serta melestarikan budaya literasi Islam Nusantara. Kendati demikian, metode ini memiliki keterbatasan berupa kebutuhan waktu yang lebih lama, potensi suasana kelas yang monoton, serta tuntutan kompetensi tinggi bagi guru. Secara keseluruhan, strategi Pegon dapat dipandang sebagai pendekatan integratif yang menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan sistem pendidikan modern, sekaligus memperkuat nilai moderasi dan identitas keislaman siswa.</p> <p>This article aims to describe the strategy of using the Pegon script as a learning tool for the yellow books at SMPIT Al-Anis Kartasura. Although this method is rooted in the classical Islamic boarding school tradition, its implementation in formal schools demonstrates strong relevance to the needs of contemporary Islamic education. The Pegon script is used as a medium for translating Arabic texts into local languages, thus facilitating students' understanding and interpretation of the contents of the yellow books. The learning process is carried out through the sorogan and bandongan methods, combined with ngesahi (studying), summarizing, question-and-answer (question-and-answer), and periodic evaluations. This study used a qualitative field approach using observation, interview, and documentation techniques, and was supplemented with monthly evaluations to measure the strategy's effectiveness. The results show that the use of the Pegon script not only improves students' understanding of classical Arabic texts but also enriches vocabulary, clarifies sentence structure, and preserves the culture of Islamic literacy in the Indonesian archipelago. However, this method has limitations such as the need for longer time, the potential for a monotonous classroom atmosphere, and demands high competency from teachers. Overall, the Pegon strategy can be seen as an integrative approach that connects Islamic scientific traditions with the modern education system, while strengthening the values ​​of moderation and students' Islamic identity.</p> <p>&nbsp;</p> Muhammad Shidiq al Aziiz Hamdan Maghribi ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 19 30 10.51925/inc.v16i01.167 KH. Abdul Wahid Hasyim: Tokoh Kaderisasi Islam Nusantara https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/169 <p>Artikel ini mengkaji secara lebih komprehensif peran strategis KH. Abdul Wahid Hasyim sebagai tokoh kunci dalam proses kaderisasi dan modernisasi Islam Nusantara pada pertengahan abad ke-20. Melalui analisis historis, sosiologis, dan pendidikan, penelitian ini mengungkap bagaimana gagasan-gagasan beliau berkontribusi pada transformasi pesantren, penguatan identitas kebangsaan, dan perkembangan Islam Nusantara yang moderat. Dengan memperluas sumber primer maupun sekunder, tulisan ini menunjukkan bahwa KH. Wahid Hasyim tidak hanya berperan sebagai pembaharu pendidikan, tetapi juga sebagai arsitek peradaban Islam Indonesia yang menyeimbangkan tradisi dan modernitas.</p> <p>This article comprehensively examines the strategic role of KH. Abdul Wahid Hasyim as a key figure in the process of cadre formation and modernization of Islam Nusantara in the mid-20th century. Through historical, sociological, and educational analysis, this research reveals how his ideas contributed to the transformation of Islamic boarding schools (pesantren), the strengthening of national identity, and the development of moderate Islam Nusantara. By expanding on primary and secondary sources, this paper demonstrates that KH. Wahid Hasyim played a role not only as an educational reformer but also as an architect of Indonesian Islamic civilization that balanced tradition and modernity.</p> Miftahul Faizin Khoirul Anwar ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 31 38 10.51925/inc.v16i01.169 Dakwah Kultural Walisongo https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/170 <p>Peradaban Islam di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang dan sangat kaya, mulai dari abad ke-7 Masehi ketika Islam pertama kali datang ke Nusantara. Pertumbuhan Islam di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti kegiatan perdagangan, penyebaran agama, dan faktor politik. Artikel ini akan membahas tentang sejarah perkembangan peradaban Islam di Indonesia, mulai dari masa awal Islam masuk hingga masa kini. Pembahasan akan mencakup peran para ulama yang penting, pengaruh budaya lokal, serta bagaimana peradaban Islam berkontribusi terhadap perkembangan masyarakat Indonesia.</p> <p>Namun, tidak ada bukti tertulis yang jelas mengenai kapan Islam pertama kali masuk ke Indonesia. Perkembangan Islam di sini diyakini terjadi melalui jalur dagang antara Timur Tengah dan Asia Tenggara. Peradaban Islam berkembang karena adanya kebebasan berpikir yang muncul sejak masa Khulafa’ al-Rasyidin, Dinasti Umayyah, dan mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah. Setelah Dinasti Abbasiyah jatuh pada tahun 1258 M, peradaban Islam mengalami kemunduran, namun bangkit kembali pada abad ke-18 M.</p> <p>Islamic civilization in Indonesia has a very long and rich history, starting from the 7th century AD when Islam first arrived in the archipelago. The growth of Islam in Indonesia was influenced by several factors, such as trade activities, the spread of religion, and political factors. This article will discuss the history of the development of Islamic civilization in Indonesia, from the early days of Islam's arrival to the present day. The discussion will cover the important role of Islamic scholars, the influence of local culture, and how Islamic civilization contributed to the development of Indonesian society. However, there is no clear written evidence regarding when Islam first arrived in Indonesia. The development of Islam here is believed to have occurred through trade routes between the Middle East and Southeast Asia. Islamic civilization flourished due to the freedom of thought that emerged during the time of the Caliph al-Rasyidin, the Umayyad Dynasty, and reached its peak during the Abbasid Dynasty. After the Abbasid Dynasty fell in 1258 AD, Islamic civilization declined, but revived in the 18th century AD.</p> Ainul Yakin Ahmad Halid ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 39 60 10.51925/inc.v16i01.170 Peran Masjid Kuno Dalam Masa Awal Penyebaran Islam di Nusantara https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/178 <p>Masjid kuno merupakan salah satu elemen penting dalam proses awal penyebaran Islam di<br>Nusantara. Pada masa awal Islamisasi, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat<br>pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, politik, dan<br>dakwah Islam. Keberadaan masjid-masjid kuno di berbagai wilayah Nusantara, seperti Masjid<br>Agung Demak, Masjid Menara Kudus, Masjid Mantingan, dan masjid tua lainnya,<br>mencerminkan strategi penyebaran Islam yang adaptif terhadap kondisi sosial dan budaya<br>masyarakat setempat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran masjid kuno dalam<br>konteks awal perkembangan Islam di Nusantara serta mengkaji makna simbolik dan<br>fungsionalnya dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian<br>sejarah dengan pendekatan deskriptif-analitis, melalui kajian literatur, sumber sejarah, dan data<br>arkeologis yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa masjid kuno berfungsi sebagai pusat<br>penyebaran ajaran Islam, lembaga pendidikan keagamaan, serta sarana integrasi sosial antara<br>komunitas Muslim dan masyarakat lokal. Selain itu, arsitektur masjid kuno yang memadukan<br>unsur Islam dengan tradisi lokal menunjukkan adanya proses akulturasi budaya yang menjadi<br>ciri khas Islam Nusantara. Masjid juga berperan dalam memperkuat legitimasi kekuasaan<br>politik Islam pada masa awal, terutama dalam konteks kerajaan-kerajaan Islam. Dengan<br>demikian, masjid kuno memiliki peran yang signifikan tidak hanya sebagai bangunan<br>keagamaan, tetapi juga sebagai media strategis dalam proses Islamisasi dan pembentukan<br>identitas sosial-budaya masyarakat Nusantara.<br><br></p> <p>Ancient mosques constitute a crucial element in the early spread of Islam in the Indonesian archipelago. During the initial phase of Islamization, mosques functioned not only as places of ritual worship but also as centers for social, educational, political, and religious propagation activities. The existence of ancient mosques in various regions of the archipelago, such as the Great Mosque of Demak, the Menara Kudus Mosque, the Mantingan Mosque, and other early. Islamic sites, reflects adaptive strategies employed in disseminating Islam within diverse local cultural contexts. This article aims to analyze the role of ancient mosques in the early development of Islam in the archipelago and to examine their functional and symbolic significance in society. This study employs a historical research method with a descriptive- analytical approach, utilizing literature review, historical sources, and relevant archaeological data. The findings indicate that ancient mosques served as centers for the dissemination of Islamic teachings, institutions of religious education, and platforms for social integration between Muslim communities and local societies. Furthermore, the architectural features of ancient mosques, which combine Islamic elements with local traditions, demonstrate a process of cultural acculturation that characterizes the development of Islam in the Nusantara region. Mosques also played a significant role in strengthening political legitimacy during the early formation of Islamic polities. Therefore, ancient mosques represent not only religious structures but also strategic instruments in the process of Islamization and the formation of socio-cultural identity in the Indonesian archipelago.</p> Nanda Ainur Rofiq Amelia Wati ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 61 76 10.51925/inc.v16i01.178 Tasawuf Sebagai Epistemologi Peningkatan Kesadaran Spiritual Dalam Fath al Arifin Karya Syekh Ahmad Khatib Sambas https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/180 <p>Tasawuf merupakan disiplin keilmuan dalam Islam yang berorientasi pada pengembangan dimensi batin dan peningkatan kesadaran spiritual manusia. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tasawuf sebagai epistemologi peningkatan kesadaran spiritual dalam Fatḥ al-ʿĀrifīn karya Syekh Ahmad Khatib Sambas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Sumber data primer berasal dari teks Fatḥ al-ʿĀrifīn, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur tasawuf klasik dan kajian akademik kontemporer. Analisis data dilakukan melalui analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi struktur epistemologi tasawuf yang meliputi sumber pengetahuan spiritual, metode perolehan pengetahuan, serta tahapan peningkatan kesadaran spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tasawuf dalam Fatḥ al-ʿĀrifīn dipahami sebagai epistemologi spiritual yang menekankan integrasi antara ilmu, praktik amal, bimbingan mursyid, dan pengalaman batin (dzauq) sebagai jalan menuju ma‘rifat. Peningkatan kesadaran spiritual dicapai melalui proses sulūk y ang bertahap, disiplin riyāḍah, serta internalisasi nilai-nilai etika spiritual. Kajian ini menegaskan bahwa tasawuf memiliki kerangka epistemologis yang sistematis dalam membentuk kesadaran spiritual, khususnya dalam tradisi tasawuf Nusantara.</p> <p>Sufism is an Islamic intellectual discipline oriented toward the cultivation of the inner dimension and the enhancement of spiritual consciousness. This article examines Sufism as an epistemological framework for enhancing spiritual consciousness in Fatḥ al-ʿĀrifīn by Shaykh Ahmad Khatib Sambas. This study employs a qualitative method using a library research approach. Primary data are drawn from Fatḥ al-ʿĀrifīn, while secondary data are obtained from classical Sufi literature and contemporary scholarly studies. Data are analyzed through content analysis to identify the epistemological structure of Sufism, including sources of spiritual knowledge, modes of knowledge acquisition, and stages of spiritual consciousness enhancement. The findings demonstrate that Sufism in Fatḥ al-ʿĀrifīn functions as a spiritual epistemology grounded in the integration of knowledge, religious practice, guidance of a spiritual master (murshid), and inner experience (dhawq) as a pathway to ma‘rifah. The enhancement of spiritual consciousness is achieved through a gradual process of sulūk, disciplined spiritual exercises (riyāḍah), and the internalization of ethical-spiritual values. This study affirms that Sufism provides a systematic epistemological framework for the formation of spiritual consciousness within the Nusantara Sufi tradition.</p> Puput Putri Yani Muhammad Rizal Ummu Salaamah ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 77 86 10.51925/inc.v16i01.180 Filsafat Etika Sosial K.H. Hasyim Asy'ari https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/181 <p>Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan ruang sosial baru yang ditandai oleh kebebasan berekspresi tanpa batas, namun pada saat yang sama memunculkan krisis etika sosial seperti menurunnya adab komunikasi, maraknya ujaran kebencian, individualisme ekstrem, serta lunturnya tanggung jawab moral di ruang publik digital. Berbagai penelitian etika sosial menegaskan bahwa krisis moral generasi digital bersumber dari keterputusan nilai moral dan spiritual dalam praktik sosial modern. Dalam kajian etika sosial Islam, pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya adab, tanggung jawab sosial, dan orientasi kemaslahatan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi filsafat etika sosial K.H. Hasyim Asy’ari sebagai kerangka konseptual untuk menjawab krisis moral generasi digital. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan historis-filosofis terhadap karya-karya dan penelitian terkait pemikiran etika sosial beliau. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai adab sosial, etika komunikasi, dan kesadaran moral kolektif dalam pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari relevan untuk direkontekstualisasikan dalam ruang digital. Kesimpulannya, rekonstruksi etika sosial tersebut menawarkan solusi berupa internalisasi nilai adab dan tanggung jawab moral yang adaptif terhadap tantangan era digital.</p> <p>The development of digital technology has created a new social space characterized by unlimited freedom of expression, but at the same time, it has given rise to a social ethical crisis such as a decline in communication etiquette, the rise of hate speech, extreme individualism, and the erosion of moral responsibility in the digital public sphere. Various studies of social ethics confirm that the moral crisis of the digital generation stems from the disconnection of moral and spiritual values ​​in modern social practices. In the study of Islamic social ethics, the thoughts of K.H. Hasyim Asy'ari emphasizes the importance of etiquette, social responsibility, and welfare orientation as the foundation of social life. This study aims to reconstruct K.H. Hasyim Asy'ari's social ethical philosophy as a conceptual framework to address the moral crisis of the digital generation. The method used is a literature study with a historical-philosophical approach to the works and research related to his social ethical thoughts. The results of the study indicate that the values ​​of social etiquette, communication ethics, and collective moral awareness in K.H. Hasyim Asy'ari's thoughts are relevant for recontextualization in the digital space. In conclusion, the reconstruction of social ethics offers a solution in the form of internalizing the values ​​of manners and moral responsibility that are adaptive to the challenges of the digital era.</p> Caisar Fayth Isyadirda Mardia Mardia Diyanti Sekar Arum ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 87 102 10.51925/inc.v16i01.181 Tafsir al Jalalayn In Contemporary Islamic Scholarship https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/185 <p>This study systematically examines the role of <em>Tafsir al-jalalayn</em> in contemporary Islamic scholarship, highlighting its ongoing relevance in intellectual, social, and religious spheres. The tafsir is viewed not merely as a foundational text but as a dynamic medium fostering interdisciplinary dialogue. Employing a systematic literature review methodology, the study analyzes 17 national and international journal articles from 2000 to 2025. The findings demonstrate that <em>Tafsir al-jalalayn</em> possesses strong resilience in addressing the intellectual and social challenges faced by today’s Muslim communities. The shift from a descriptive-historical focus to a more contextual and reflective approach affirms that this tafsir is a continually reinterpreted source of knowledge, strengthening its position both in academia and religious practice, in traditional settings such as pesantren and the broader digital realm. It plays a central role in bridging classical scholarly authority with the realities of modern Muslim societies. The potential for further research development remains open, especially through interdisciplinary approaches and social orientation. The integration of manuscript studies, education, and modern media presents promising opportunities for relevant and productive future research. Thus, this study underscores the importance of interdisciplinary development and technological integration in <em>Tafsir al-jalalayn</em> studies to reinforce its social and religious relevance and promote inclusive dialogue between classical tradition and the challenges of contemporary Muslim communities, ensuring the tafsir remains a vital part of Islamic intellectual dynamics.</p> <p>Penelitian ini mengkaji secara sistematis peran Tafsir al-jalalayn dalam kajian keislaman kontemporer, menyoroti relevansi berkelanjutan dalam ranah intelektual, sosial, dan keagamaan. Tafsir ini dipandang bukan hanya sebagai teks dasar, tetapi sebagai medium dinamis yang mendorong dialog interdisipliner. Dengan metodologi tinjauan literatur sistematis, studi menganalisis 17 artikel jurnal nasional dan internasional (2000–2025). Hasil menunjukkan Tafsir al-jalalayn memiliki daya lenting kuat dalam menghadapi tantangan intelektual dan sosial umat Islam saat ini. Perkembangan kajian dari fokus deskriptif-historis ke pendekatan kontekstual dan reflektif menegaskan tafsir ini sebagai sumber ilmu yang terus dimaknai ulang, memperkuat posisinya dalam akademik dan praktik keagamaan, baik di pesantren maupun ranah digital. Tafsir ini berperan sentral menjembatani otoritas keilmuan klasik dengan realitas umat Islam modern. Potensi pengembangan kajian masih terbuka, terutama melalui pendekatan lintas disiplin dan orientasi sosial. Integrasi kajian naskah, pendidikan, dan media modern membuka peluang riset lanjutan yang relevan dan produktif. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan lintas disiplin dan integrasi teknologi dalam kajian Tafsir al-jalalayn guna memperkuat relevansi sosial dan keagamaan serta mendorong dialog inklusif antara tradisi klasik dan tantangan umat Islam modern, sehingga tafsir ini layak terus dikaji dan dihidupkan sebagai bagian dari dinamika intelektual Islam.</p> Iin Parninsih Muh Alwi HS Asmullah A Imran Anwar Kuba ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 103 124 10.51925/inc.v16i01.185 Konflik Internal Dan Aliansi Politik https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/186 <p>Kajian mengenai dinamika kekuasaan di Kesultanan Banten menunjukkan bahwa konflik internal Kesultanan memiliki peran penting dalam melemahnya otoritas politik. Pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji tidak hanya mencerminkan perebutan kekuasaan, tetapi juga perbedaan orientasi politik yang membuka peluang bagi intervensi eksternal, khususnya oleh VOC. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika konflik internal Kesultanan serta mengkaji dampak aliansi politik antara Sultan Haji dan VOC terhadap perubahan struktur kekuasaan dan kedaulatan kesultanan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik internal menjadi faktor utama melemahnya stabilitas politik dan solidaritas elite di Kesultanan Banten. Aliansi antara Sultan Haji dan VOC memberikan keuntungan politik jangka pendek, namun secara bersamaan memperkuat dominasi VOC dalam mengendalikan kebijakan politik dan ekonomi, sehingga mengurangi kedaulatan kesultanan dan meningkatkan ketergantungan terhadap kekuatan kolonial. Dengan demikian, interaksi antara konflik internal dan intervensi kolonial menjadi penyebab utama kemunduran Kesultanan Banten.</p> <p>&nbsp;The study of power dynamics in the Sultanate of Banten reveals that internal Sultanate conflict played a crucial role in weakening political authority. The conflict between Sultan Ageng Tirtayasa and Sultan Haji not only reflected a struggle for power but also differences in political orientation that opened opportunities for external intervention, particularly by the Dutch East India Company (VOC). This research aims to analyze the dynamics of internal Sultanate conflict and examine the impact of the political alliance between Sultan Haji and the VOC on changes in political structure and sovereignty. The study employs a qualitative method with a historical approach, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography.</p> <p>&nbsp;</p> <p>The findings indicate that internal conflict became a major factor in undermining political stability and elite cohesion within the Sultanate of Banten. The alliance between Sultan Haji and the VOC provided short-term political advantages but simultaneously strengthened VOC dominance over political and economic policies, leading to a decline in sovereignty and increased dependency on colonial power. Thus, the interaction between internal conflict and colonial intervention significantly contributed to the decline of the Sultanate of Banten.</p> <h3>&nbsp;</h3> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> Rama Aditya Putra Sari Febriani ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 125 152 10.51925/inc.v16i01.186 Kesultanan Siak Sri Indrapura https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/187 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kesultanan Siak Sri Indrapura dalam peradaban Melayu dan sejarah Nusantara serta mengkaji warisan budaya yang ditinggalkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan dan dianalisis menggunakan metode historis-kritis.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesultanan Siak memiliki peran penting dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan. Dalam bidang politik, Siak menerapkan strategi adaptif melalui hubungan dengan kekuatan kolonial, khususnya melalui Traktat Siak 1858. Dalam bidang ekonomi, Siak menjadi bagian dari jaringan perdagangan global di Selat Malaka dengan komoditas utama seperti lada, sagu, dan hasil hutan. Dalam bidang budaya dan keagamaan, Siak berperan sebagai pusat pelestarian budaya Melayu-Islam dan penyebaran Islam yang terintegrasi dengan sistem pemerintahan.</p> <p>Warisan budaya berupa situs sejarah seperti Istana Siak, Masjid Raya Syahabuddin, dan Balai Kerapatan Tinggi tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga berfungsi sebagai simbol identitas dan memori kolektif masyarakat Melayu. Dengan demikian, Kesultanan Siak merupakan bagian penting dalam dinamika peradaban Melayu dan sejarah Nusantara.</p> M. Syukron Jazilah Sari Febriani ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 153 182 10.51925/inc.v16i01.187 Membaca kembali Kolonialisme https://ejournalpegon.jaringansantri.com/index.php/INC/article/view/188 <p>Artikel ini mengeksplorasi strategi Inggris dalam memperkuat posisinya di Bengkulu pada pertengahan awal abad ke-19 dengan menitikberatkan pada aspek politik, ekonomi, dan militer sebagai instrumen kolonial. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana Inggris mempertahankan eksistensi dan pengaruhnya di tengah persaingan kekuatan Eropa, khususnya Belanda, serta dinamika hubungan dengan elite lokal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahap utama: heuristik untuk mengumpulkan sumber primer seperti arsip kolonial, laporan administrasi, dan catatan perjalanan, serta sumber sekunder berupa buku dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Inggris di Bengkulu dilakukan melalui penguatan struktur administrasi kolonial, optimalisasi perdagangan komoditas lada sebagai basis ekonomi, serta pembangunan dan modernisasi infrastruktur pertahanan seperti Benteng Marlborough. Di sisi lain, keterbatasan ekonomi Bengkulu dibandingkan wilayah lain seperti Singapura mendorong Inggris untuk melakukan penyesuaian strategi hingga akhirnya mempertimbangkan pertukaran wilayah melalui Traktat London 1824. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa penguatan posisi Inggris di Bengkulu tidak semata-mata bersifat militeristik, melainkan merupakan kombinasi strategi ekonomi, politik, dan diplomasi yang terintegrasi dalam kerangka kepentingan imperial Inggris di Asia Tenggara.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Abstract</p> <p>This article examines British strategies to strengthen its position in Bengkulu in the mid-19th century, with an emphasis on political, economic, and military aspects as colonial tools. The focus of this study is how Britain managed to maintain its existence and influence amid competition between European powers, especially the Netherlands, as well as the dynamics of its relationship with the local elite. This research uses historical research methods that include four main stages: heuristics to collect primary sources such as colonial archives, administrative reports, and travel notes, as well as secondary sources in the form of books and scientific articles. The results of the study show that Britain's strategy in Bengkulu was implemented through the strengthening of the colonial administrative structure, the optimisation of pepper trade as the economic base, and the development and modernisation of defence infrastructure such as Fort Marlborough. On the other hand, Bengkulu's economic limitations compared to other regions such as Singapore forced Britain to adjust its strategy, so that in the end they considered exchanging the region through the London Agreement of 1824. This research confirms that the strengthening of the British position in Bengkulu was not solely military in nature, but rather a combination of economic, political, and diplomatic strategies integrated within the framework of British imperial interests in Southeast Asia.</p> Lesi Maryani ##submission.copyrightStatement## 2026-07-06 2026-07-06 16 01 183 203 10.51925/inc.v16i01.188